Emosi yang meluap-luap pada anak terlebih pada anak usia balita adalah hal yang wajar. Pasalnya pada usia ini, kemampuan anak dalam mengelola emosi masih sangat terbatas.
Tak hanya itu, balita juga umumnya masih belum mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata secara jelas.
Jadi tak heran jika tantrum dan menangis menjadi andalan si kecil untuk menyampaikan keinginan.
Sebagai orang tua, penting membantu anak mengenali dan mengelola emosinya agar terhindar dari perilaku yang tidak diinginkan.
Kenali Penyebab Anak Marah
Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak, penting bagi parents untuk mengenali penyebab anak marah.
Seperti layaknya orang dewasa, anak pun memiliki alasan mengapa mereka marah. Berikut beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab anak marah:
- Kelelahan
- Frustasi karena kesulitan mengungkapkan keinginan atau tidak bisa melakukan sesuatu yang mereka inginkan
- Terkadang anak marah sebagai cara untuk mendapatkan perhatian orang tua
- Overstimulasi karena si kecil berada dalam lingkungan yang ramai dalam waktu yang lama
- Lapar
- Meniru perilaku orang sekitar
- Merasa dibandingkan
Cara Mengendalikan Emosi pada Anak
Parents, jika si kecil cenderung terlihat sebagai pribadi yang mudah marah, beberapa cara mengontrol emosi pada anak ini bisa parents terapkan:
1. Ajari Anak Mengenali Emosi
Bagi anak usia 2 tahun, mereka belum mengetahui cara mengekspresikan keinginannya. Jadi salah satu mengontrol emosi anak usia 2 tahun yaitu dengan mengajari si kecil mengenali emosinya.
Anak perlu tahu apa yang mereka rasakan. Bantu mereka mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dialami, seperti senang, sedih, marah, atau takut.
Misalnya, "Adik terlihat kesal sekali ya. Apa yang membuat adik merasa kesal?”. Dengan begitu, anak bisa mengkomunikasikan perasaannya dengan lebih baik.
2. Validasi Perasaan Anak
Saat si kecil menangis setelah mendapat goresan siku yang bahkan tidak melukai kulitnya, naluri pertama Anda mungkin menyuruhnya untuk tenang atau meyakinkannya bahwa cederanya tidak parah.
Namun para ahli mengatakan bahwa menyangkal perasaannya hanya akan memperburuk keadaan. Hal itu justru akan menyebabkan anak semakin memendam perasaannya dan menjadi semakin kesal.
Jadi, jangan sesekali hiraukan atau meremehkan perasaan anak, meskipun menurut Anda itu hal yang sepele.
Pastikan Anda memvalidasi perasaannya, seperti “Mama tahu ini sakit,” atau, “Kamu pasti kaget ya waktu terjatuh.”Hindari kalimat seperti "Jangan nangis dong" atau "Masa gitu aja marah.”
3. Beri Waktu untuk Tenang
Cara mengendalikan emosi pada anak yaitu dengan memberinya waktu untuk tenang. Hindari memarahi balik anak saat si kecil sedang meluapkan emosinya.
Beri anak ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Sediakan "tempat tenang" khusus di rumah, seperti kamar mereka, untuk anak pergi saat mereka merasa kewalahan.
Sebaliknya, ketika anak sedang marah, tawarkan pilihan untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Misalnya, "Adik marah ya? Mau mama peluk dan cerita ke Mama dulu atau mau menenangkan diri dulu di kamar?”
Ciptakan suasana di mana anak merasa nyaman bercerita tentang perasaan mereka. Sediakan waktu khusus untuk mengobrol dan dengarkan mereka tanpa judgement.
4. Bantu Anak Memecahkan Masalah
Setelah emosi anak mereda, bantu mereka mencari solusi untuk masalah yang sedang dihadapi.
Dengan begitu, anak belajar bahwa ada cara yang lebih baik untuk menghadapi situasi yang membuat mereka kesal dibanding mereka harus marah-marah.
Misalnya, jika si kecil nangis dan marah-marah setelah mengalami cedera, Anda bisa mengajukan solusi seperti "Menurut adik, untuk membersihkan lukanya lebih baik kita cuci dengan air atau cukup memberi es batu di atas lukanya?” atau “Adik mau membalut lukanya dengan perban atau cukup dengan memberinya obat luka?”
5. Jadilah Contoh yang Baik
Anak-anak adalah peniru ulung, mereka belajar dari apa yang mereka lihat, termasuk perilaku orang tuanya.
Karenanya, agar si kecil mampu mengontrol emosinya, parents pun perlu menunjukkan bagaimana cara mengelola emosi dengan tenang.
Misalnya jika Anda sedang merasa marah, Anda bisa menarik napas dalam dan hitung sampai sepuluh lalu katakan pada anak "Mama sedang merasa kesal, tapi Mama akan coba tenang dulu ya.”
6. Pelukan dan Kasih Sayang
Memberinya pelukan dan kasih sayang juga bisa menjadi salah satu cara mengatasi emosi anak usia 2 tahun.
Anda bisa memberinya pelukan kasih sayang ketika si kecil sudah lebih tenang. Pelukan ini akan memberi si kecil rasa aman. Tak hanya itu, mereka juga akan merasa lebih dicintai.
7. Tetap Tenang
Tahukah parents bahwa apa yang parents rasakan bisa dirasakan juga oleh si kecil, termasuk perihal emosi.
Menangani anak yang tantrum dengan berteriak atau marah justru akan memperparah situasi. Bahkan, membuat anak semakin emosional.
Jadi, saat mengatasi emosi anak, pastikan Anda tetap tenang dan bicaralah dengan nada yang lembut.
8. Tetapkan Batasan
Anak usia 2 tahun sedang belajar memahami aturan. Jangan mudah menyerah pada emosi anak yang terjadi karena suatu keinginannya tidak terpenuhi.
Misal si kecil marah karena mainan keinginannya tidak dibelikan. Padahal ada alasan di balik Anda melarangnya membeli mainan.
Jadi saat membuat batasan, pastikan Anda menjelaskan dengan lugas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Konsistensi penting untuk membantu anak memahami aturan yang telah ditetapkan.
9. Putuskan Penyebab Anak Marah
Parents pernahkah si kecil marah diiringi dengan tindakan ekstrem seperti mengacungkan benda tajam?
Jika iya, parents perlu mengetahui dari mana si kecil belajar mengacungkan benda tajam. Apakah dia melihat orang tua melakukannya? atau efek nonton film di YouTube, atau justru mereka belajar dari teman sebayanya.